
Ramai. Saat itu semua berlomba berbicara.
"di tempatku airnya bagus"
"daerah gw dong makanannya enak-enak. Dijamin naik berat badan deh kalau di sana"
"kalau di jawa sih orangnya ramah-ramah. Pokoknya minta tolong sama orang lain gampang deh"
"Hmm..di Jakarta sih, kayanya banyak orang jahat. Tapi mau kemana-mana gampang. Kendaraan ada 24 jam. Mau nyari apa aja juga ada"
"Ah enakan di rumahku. Jalanan sepi, nggak ada macet. Udaranya masih segar, nggak ada polusi"
Saya, termasuk yang berlomba untuk mengabarkan, betapa indahnya kampung halaman saya. Tapi tiba-tiba saya menyadari, bukan itu yang menyebabkan kita menyukai suatu tempat. Karena saat satu orang merasa nyaman di suatu tempat, bagi orang lain bisa saja tempat itu menjadi tempat yang paling menyebalkan. Bukan karena air, bukan tanah, bukan udara, atau bukan karena makananannya. Semua karena sebuah nama, RUMAH. Rumah yang menyebabkan segala kerinduan menderas datang bila lama tak pulang. Rumah yang menjadikan suatu tempat, bagaimanapun keadaannya, menjadi tempat terindah di dunia. Rumah yang bisa membuat orang yang lelah memakai topeng, melepaskan segala atributnya untuk menjadi diri sendiri. Rumah juga yang mengingatkan bahwa ada bumi yang harus selalu dipijak bila kita terbang terlalu tinggi.
Tapi mungkin banyak juga yang tak setuju. Banyak juga rumah yang menjadi neraka bagi sebagian orang. Rumah menjelma menjadi penjara buat orang-orang tertentu. Tak semua rumah memang yang dapat membuat seseorang rindu pulang. Karena rumah tak sekedar bangunan. Ia disebut rumah karena ada cinta di dalamnya. Cinta dari masing-masing anggota keluarga, atau dari siapa saja yang meskipun tidak memiliki hubungan darah tapi tetap mencintai tanpa pamrih.
Saya bersyukur, punya rumah itu. Rumah yang utuh. Yang menjadikan tanah, air, dan udara di tempat itu membentuk harmoni paling indah di muka bumi. Yang membuat saya tak bosan mengumpulkan bulir-bulir rindu untuk saya bawa pulang...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar