
kamu sudah menunggu di teras rumah waktu itu
aku terlambat datang, seperti biasa
kenapa? adakah yang penting?
aku ingin mengajakmu melihat pelangi
sebentar lagi akan muncul
bagus lho lihat pelangi dari sini, cerocosmu
nah itu dia!!! bagus kan??
aku mengangguk tak tega mencederai antusiasmu
kamu tau, aku sangat menyukai pelangi
tapi kamu tidak tau,
aku pernah melihat pelangi jauh lebih indah dari ini
seperti jembatan panjang yang memancang pada kaki langit
kemudian ribuan bidadari berselendang warnawarni berbaris rapi
dengan selendang sewarna di setiap banjarnya
beriringan melewati lengkungan jembatan itu
di sini cuma kulihat sepotong kue lapis berbentuk persegi panjang
sore itu aku cuma duduk di sebelahmu menikmati pelangi
yang kamu bilang sebagai pelangi paling indah yang pernah kamu lihat
kamu tidak tau
aku pernah melihat pelangi yang jauh lebih indah daripada ini
senja kemudian menenggelamkan pelangi dalam pelukannya
aku pergi, pamitku
pergi ke mana?
belum tau
aku mau cari pelangi lagi
lho..kan barusan kita lihat pelangi
dasar maniak pelangi
tapi percayalah kamu nggak akan lihat pelangi yang lebih indah dari yang tadi
di belahan bumi manapun kamu cari
hati-hati ya, pesanmu
kamu tidak tau…
sore ini aku melihat pelangi yang menyerupai jembatan lagi
entah kenapa, aku tidak lagi terpikat seperti dulu
sepetak mejikuhibiu yang kulihat di teras bersama kamu menggantikan kedudukannya
indah yang justru baru dapat kurasakan setelah ribuan kilometer jauhnya
keindahan ternyata tidak terletak pada seberapa besar atau seberapa sulit upaya untuk menikmatinya
tidak pada seberapa besar objek itu tampak di depan mata
tapi pada seberapa mampu kita memaknainya
sekarang aku tau
aku tidak butuh jembatan megah warnawarni
aku cuma butuh sepotong kue lapis
dan kamu tau itu…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar